TEKNIK PENULISAN DAN ARTISTIK KHAT NASKHI
DALAM PEMBELAJARAN KALIGRAFI
Siti Aliyya Laubaha
Zikra M. Umar
Abstrak:
Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan tata cara menulis khat
naskhi serta keindahan penulisannya. Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian
pustaka. Pengumpulan datanya dilakukan
dengan menelusuri berbagai sumber dan menganalisanya dari sumber-sumber tersebut.
Tulisan ini menemukan bahwa dalam tata cara menulis khat naskhi ini
mengalami masalah, karena khat naskhi merupakan jenis khat yang
sangat mudah mulai dari bentuknya yang simple serta tidak menonjol dari
tulisan-tulisan lain. Selain itu juga khat ini banyak diminati oleh
orang-orang dari pangsa Arab. Perkembangan khat atau kaligrafi Arab itu
dia tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya peradaban Arab dan munculnya peradaban
Islam pada zamannya. Karena khat naskhi ini merupakan peranan dalam
tulisan al-Qur’an, maka menjadikannya jenis khat ini terus menerus
berkembang bahkan juga terus diperhalusi dengan berbagai kaidah yang lebih pula
guna untuk sebagai penyeri tulisan dan berbagai hiasan untuk menghasilkan
Mushaf al-Qur’an. Selain itu juga, khat naskhi menjadi sebagai gambaran
artistic melalui sentuhan tangan-tangan para kaligrafer atauupun para seniman
dengan berbagai pula bahan dan medium.
Kata kunci : Khat Naskhi, Kaligrafi, Artistik.
A.
Pendahuluan
Tulis menulis suatu naskah
tentunya juga melibatkan khat atau kaligrafi Arab. Dalam dunia teks
memang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Kaligrafi adalah salah satu
seni Islam yang khususnya berkaitan dengan tulis menulis yang memiliki sejarah
dalam kitab suci al-Quran yang mengiringinya.[1]
Pengertian
seni khat dapat dilihat dalam dua pengertian, yaitu pengertian secara etimologi
dan terminologi. Pengertian etimologi, kata khat lebih popular dan dikenal
dengan seni kaligrafi Islam yang merupakan penyederhanaan daripada kata
calligraphy, berasal dari dua suku kata bahasa Yunani yaitu Kallos: beauty
(indah) dan Graphein: to write (menulis). Yang berarti yaitu “seni menulis
dengan indah, tulisan tangan yang menghasilkan huruf atau tulisan indah sebagai
suatu seni; khat.” Adapun makna seni khat adalah “seni (kemahiran) menulis
tulisan Arab atau tulisan jawi dengan gaya khas atau unik sehingga menghasilkan
tulisan indah.”
Pengertian
lain seni ini ialah “seni menulis indah dengan pena.” Dan disebut juga Fann al-Khat dalam artian
seni memperhalus tulisan atau memperbaiki coretan. Pengertian tersebut, dapat
dipahami bahawa seni khat merupakan tulisan yang ditulis indah dengan
menggunakan huruf-huruf Arab sebagai tulisan asas, selain diikuti dengan corak
hiasan dan motif yang menarik sehingga memunculkan seni tulisan cantik dan
indah untuk dinikmati sebagai karya seni yang unik dan menarik [2]. Menurut pengertian
istilah (terminologi) pula, seni ialah segala yang halus dan indah lagi
menyenangkan hati serta perasaan manusia, apakah ia merupakan hasil cipataan
Allah swt maupun yang dihasilkan oleh pikiran, kemahiran, imajinasi dan
perbuatan seorang manusia.
Dalam
hal ini, seni kaligrafi dipandang seni yang kedua setelah arsitektur. Hal ini
disebabkan karena seni figurative haram hukumnya, maka kaligrafi menjadi seni
yang paling digemari dan paling maju
ketimbang seni-seni lainnya. Ini juga tentunya dalam agama Islam merupakan
suatu peradaban yang didasarkan pada tulisan dan perkataan Allah sebagaimana
yang tercantum dalam al-Quran, sehingga seni tulisan ini adalah seni tulisan
yang mengandung sifat yang agung.[3]
Secara
harfiyah seni kaligrafi ditakrifkan oleh ibnu khaldun dalam bukunya al-Muqaddimah
“kaligrafi adalah lukisan dan bentuk harfiyah yang menunjukkan kepada kalimat
yang didengar yang mengisyaratkan apa yang ada di dalam jiwa”[4]. Kaligrafi islam indonesia
sejak dari tanah asalnya merupakan salah satu parameter peradaban yang
berkembang seirama dengan tumbuh dan berkembangnya agama islam. Dan seni
kaligrafi islam indonesia merupakan salah satu parameter eksistensi peradaban (
tamaddu n ) islam di indonesia dan di beberapa Negara Asean[5].
Terkait
dengan hal di atas, kaligrafi sebagai salah satu seni Islam bidang
tulis-menulis memiliki aspek sejarah yang kuat dalam mengiringi kitab suci
al-Qur’an. Ia merupakan visualitas dari ayat-ayat Allah subh}a>nahu wa
ta’a>la> dalam lingkup mikro, sedangkan alam dan isinya merupakan
realitas makro ayat-ayat al-Qur’an. Jenis khat atau kaligrafi yang dominan
serta menjadi standar penulisan al-Qur’an adalah gaya khat Kufi yang belum ada
tanda baca (i’ja>m)[6]. Jenis khat atau kaligrafi
yang dominan serta menjadi standar penulisan al-Qur’an adalah gaya khat Kufi
yang belum ada tanda baca (i’ja>m).
Pada
masa berikutnya Al-Khali>l Ibn Ah}mad (w. 786 M) berhasil melengkapi
penemuan para ahli sebelumnya sehingga mencapai tahap kesempurnaan, seperti
tulisan yang kita lihat dan kita baca saat ini, yakni bentuk utama huruf, titik
huruf serta harakat atau syakal. Selanjutnya pada periode mulai dari akhir
pemerintahan Bani Umayah (661 – 705 M) hingga pertengahan kekuasaan Bani
Abbasiyah di Baghdad, yaitu pada khalifah al-Makmun ditemukan enam rumus pokok
kaidah khat Al-Aqla>m as-Sittah ’enam tulisan pokok’ yaitu Tsuluts, Naskh,
Muhaqqaq, Raih}a>niy, Riq’iy atau Riq’ah, dan Tauqî’.
Gaya
Masyq dan Naskh terus berkembang, sedangkan Mail lambat laun ditinggalkan
karena kalah oleh perkembangan Kufi. Perkembangan Kufi pun melahirkan beberapa
variasi baik pada garis vertikal maupun horizontalnya, baik menyangkut
huruf-huruf maupun hiasan ornamennya. Muncullah gaya Kufi Murabba’
(lurus-lurus), Muwarraq (berdekorasi daun), Mudhaffar (dianyam), Mutarabith
Mu’aqqad (terlilit berkaitan) dan lainnya. Demikian pula gaya kursif mengalami
perkembangan luar biasa bahkan mengalahkan gaya Kufi, baik dalam hal keragaman
gaya baru maupun penggunannya, dalam hal ini penyalinan al Quran, kitab-kitab
agama, surat- menyurat dan lainnya.
Salah
satu bidang kesenian yang sangat menakjubkan adalah seni khat atau
kaligrafi. Khat ini, berkembang dari masa satu ke masa yang lain hingga
menyebabkannya menjadi terkenal dan
banyak diminati oleh para penggiat seni yang menyukai tulisan dalam lingkunga
masyarakat Islam. Seni khat, lebih focus pada hasil tulsian yang
menggunakan bermacam-macam gaya dan corak yang menghasilkan berbagai macam
huruf, ayat, serta kalimat yang ditulis sedemikian rupa, baik itu sistematik,
indah, dan menghasilkan suatu tulisan yang sangat sermpurna.
Untuk itu dalam artikel penulis hanya
memfokuskan pada pada teknik penulisan dan artisrik khat naskhi.
B.
Teknik Penulisan dan Artistic Khat Naskhi Dalam Pembelajaran
Kaligrafi
Menurut Didin
Sirojuddin A.R., “kata Naskh diambil daripada akar kata Nuskhah
atau Naskah yang berarti naskah karena ia banyak dipakai untuk menyalin
terjemahan naskah-naskah Yunani, Parsi dan lain sebagainya. Khat Naskhi
ialah
tulisan tangan yang berbentuk
cursif atau
tulisan bergerak berputar (rounded) dan sifatnya mudah serta jelas untuk
ditulis dan dibaca. Dalam
bukunya Koleksi Karya Master
Kaligrafi Islam bahwa khat Naskhi adalah tulisan yang sangat lentur
dengan banyak pusingan dan hanya memiliki sedikit sudut yang tajam seperti
sudut-sudut Kūfi[7]. Seiring
dengan namanya kata Naskhi secara etimologis adalah berasal dari kata
kerja nasakha-yansukhu yang berarti telah menghapus.
Dalam sejarah kaligrafi islam
tulisan bentuk Naskhi merupakan tulisan kursif (tulisan miring) yang
pertama kali timbul, yang rumus-rumus dasarnya ditemukan oleh seorang
kaligrafer ternama yang bernama Ibnu Muqlah (227 H) di Iraq. Kemudian hari khat
Naskhi menjadi populer setelah dirancang kembali pada abad ke-10 oleh
Ibnu Bawwab dan Ya’qut al-Musta’simi serta para pakar lainnya hingga resmi
menjadi tulisan resmi al-Quran.
Kata
ini diartikan demikian karena jenis tulisan ini telah menghapus atau mendesak
tulisan yang telah ada sebelumnya, yaitu Ku>fi. Tulisan khat Naskhi
setelah lepas dari tulisannya yang kuno sebelum masa kenabian. Kemudian gaya tulisannya yang semakin
sempurna tersebut digunakan untuk urusan administrasi perkantoran dan surat
menyurat di zaman kekuasaan Islam. Pada abad ke-3 dan ke-4 hijriuyah, pola-pola
Naskhi bertambah indah dengan kodifikasi yang dibuat Ibnu Muqlah. Para
ahli sejarah beranggapan, bahwa Ibnu muqlah adalah peletak dasar khat Naskhi
dalam bentuknya yang sempurna pada zaman Abbasiyah.
Dikatakan
pertama kali yang menggunakan khat ini adalah Ali bin Abi Thalib.
Tetapi, pendapat yang lebih rajih menyebutkan bahwa yang menciptakannya adala
Ibnu muqillah, sejak abad ke-6 Hijriyah, khat tersebut menggantikan khat
kufi dalam penggunaannya. Diantara keistimewaan khat Naskhi
adalah adanya harakat dan huruf-hurufnya bisa dipanjangkan[8].
Pada zaman kekuasaan Atabek Ali usaha memperindah khat
Naskhi mencapai puncaknya sehingga terkenalah gaya yang disebut Naskhi
Atabek yang banyak digunakan menyalin mushaf al-Quran di abad pertengahan
Islam. Khat ini disebut dengan khat
Naskhi karena para khattat menulis al-Quran dan berbagai buku
dengan menggunakan gayanya. Ciri-cirinya ialah mempunyai kelembutan, mudah
dibentuk, praktikal dan mudah dibaca. Ukuran untuk khat Naskhi:
huruf alif tingginya lima titik. Dan yang tidak kalah uniknya huruf satu
terbentuk dari huruf lainnya, maka bila ingin belajar khat ini harus
menguasai dari yang pertama, karena akan berpengaruh pada huruf-huruf
berikutnya.
Berikut
perinciannya, bagian pertama adalah huruf-huruf diatas garis-garis sebagai berikut:[9]
1.
Huruf alif
(dan semua yang terbentuk darinya 1- ل- ك- ط- ظ )
2.
Huruf Ba, Ta, Tsa, (hanya
beda peletakan titik) dan badan huruf Fa
3.
Huruf Dal, Dzal, dan awal
huruf Ha
4.
Huruf Tho dan Dzho
(perutnya berasal dari Shod badannya dari Alif)
5.
Fa (kepalanya Wau badannya Ba’)
6.
Kaf (dari alif)
7.
Kaf model kedua
8.
Ha (dari Dal)
9.
Lam alif
Kata
tersebut juga mengandung arti menyalin hal itu disebabkan tulisan tersebut
biasanya untuk menulis, menyalin mushaf al-Qur’an, kitab-kitab agama lainnya
dan naskah ilmiah. Dari arti menyalin ini dimungkinkan pula bahwa kata ‘naskah’
dalam Bahasa Indonesia berasal dari kata kerja nasakha - yansukhu yang berarti
telah menyalin. Ada pula penafsiran yang mengartikan nasakha adalah melengkung
(cursive) karena bentuk hurufnya cenderung melengkung yang secara
langsung membedakannya dengan tulisan kufi yang kaku bersudut (anguler)[10].
Khat Naskhi dipakai untuk mushaf al-Qur’an dan menjadi khat
dari teks- teks Arab yang lain, khat ini juga sering disebut dengan khat
jusnalistik (khat Shuhufi). Tulisan khat Naskhi
merupakan tulisan kursif yang pertama kali timbul. oleh Ibnu al-Bawwab dan
pakar lainnya hingga resmi menjadi tulisan al-Qur’an. Hingga saat ini tulisan
al-Qur’an atau Hijaiyah adalah identik dengan gaya Naskhi, rasm Mushaf
Utsmani juga menggunakan Naskhi. Dengan kata lain, model khat Naskhi
yang paling banyak digunakan dalam dunia Islam, karena mudah dalam
menuliskannya maupun membacanya.
Dalam
khat Naskhi tidak ada kekhususan penulisan, kecuali pada kepala ‘ain
dan mim akhir dari jenis mursal (kejur, terjuntai) yang proses
penulisannya: ‘ain dilukis persis seperti proses penulisan yang
diterapkan pada huruf ‘Ain dalam khat Tsuluts. mim dilukis
(ditulis) hanya dengan menggunakan pena untuk huruf pokok (satu pena) saja,
tetapi harus diperhatikan terutama ketika memiringkan mata pena, yang pada
permulaan huruf ditulis dengan menggunakan sepertiga leher mata pena.
Selanjutnya pena kembali menapak penuh dalam menggoreskan ujung huruf, sehingga
melahirkan huruf sebagai berikut: مـ ـ ـممـ
.
Menurut Hasyim ada namanya Khat Naskhi, Khat
ini biasanya dipelajari lebih dahulu sebelum belajar jenis khat yang
lain. Karena memang sangat cocok dijadikan sebagai dasar dalam mempelajari
kaligrafi Arab. Sesuai dengan namanya Naskhi karena tulisan jenis ini
sering dipakai dalam tulisan-tulisan naskah berbahasa arab dan juga dalam
penulisan Mushab Al Qur’an. .Adapun ciri-ciri dari jenis Khat
Naskhi ini diantarnya adalah:
1.
Huruf-hurufnya
mudah dipahami dan dikenal, baik oleh orang awam (yang tidak mengerti
kaligrafi) sekalipun.
2.
Tulisan
Arab/al-Quran yang menggunakan jenis khat Naskhi pasti bisa dibaca oleh
orang yang mampu membaca al-Quran/huruf Arab.
3.
Menggunakan
garis acuan horizontal sehingga dari garis tersebut ada huruf yang
berada diatas garis dan ada huruf-huruf yang memotong garis.
4.
Panjang, lebar,
dan besar huruf khat Naskhi disesuaikan dengan alat tulis yang dipakai,
dalam rumus khat Naskhi para ahli membuat tinggi dari huruf alif adalah
lima titik dari ukuran pena.
5.
Harakat/tanda
baca dalam jenis khat Naskhi tepat berada diatas huruf jika baris fathah
dan sukun dan berada dibawah huruf jika berada dibaris kasrah.
6.
Penulisan
tasjid (siddah) dari pariasi dalam khat Naskhi ditulis dengan
pena yang lebih kecil dengan pena huruf tunggal.
7.
Dalam penulisan
khat Naskhi, huruf-huruf hijaiyah yang berjumlah 29 sebagian tulisannya
terdapat kesamaan antara satu dengan yang lainnya[11].
Khat
Naskhi mempunyai bentuk tulisan sederhana yang tidak terlalu rumit dalam
penulisaanya, memikat, mudah dibaca dan mudah untuk dipelajari dan ditulis,
sehingga banyak buku-buku ilmiah yang ditulis menggunakan khat Naskhi.
Jenis khat Naskhi ini menjadi tulisan utama dalam penulisan
al-Quran standar maupun al-Quran mushaf Uthmani. Peranan khat Naskhi
dalam tulisan al-Quran menjadikan jenis khat ini terus berkembang dan
bahkan terus diperlukan dengan menggunakan kaidah yang lebih baik.
Secara
keseluruhan, Khat Naskhi dibagi kepada 2 jenis:
1.
Khat
Naskhi qadim
Naskhi
qadim atau kuno adalah gaya tulisan yang sampai pada kita dari zaman Bani
Abbas, kemudian diperintah oleh Ibnu Muqlah dengan kodifikasinya, kemudian
diperindah lagi oleh masyarakat Atabek. Lalu diolah menjadi karya seni yang
semakin sempurna oleh orang-orang Turki. Sehingga sampailah kepada kita
sekarang dengan bentuk-bentuk yang indah. Sekarang para kaligrafi menulis
secara tradisional karena mengikuti kaidah-kaidah dan asal-muasal yang lama,
mencakup ukuran, ketinggian, tipis-tebal garis horizontal dan vertikal, serta
bentuk lengkungannya.
2.
Khat
Naskhi s}uhuf{i
Naskhi
s}uhuf}i atau jurnalistik merupakan gaya yang terus berkembang bentuk huruf-hurufnya.
Dinamakan s}uhuf}i karena penyebarannya yang luas dilapangan jurnalistik.
Maskhi s}uhuf}i cenderung kaku dan pada beberapa bagian mendekati bentuk kufi
karena memiliki sudut yang tajam, berbeda dengan Naskhi qadim yang lebih
lentur dengan banyak putaran.
Gaya tulisan
ini kerap disebut Naskhi-kufi (perpaduan Naskhi-kufi) dengan ciri
umum sapuan horizontalnya sangat tebal dan sapuan vertikalnya sangat tipis dan
pendek (3-5 titik). Naskhi kufi banyak digunakan dilapangan advertensi,
plakat, poster, dan judul-judul tulisan dikoran dan majalah, jenis ini telah
masuk lingkup alfabet komputer sehingga jarang ditulis langsung oleh tangan[12]
Tidak ada
kekhususan dalam menulis khat Naskhi, hanya saja kepala ‟ain dan mim akhir dari jenis mursal
(terulur atau kejur). Cara menulis khat Naskhi adalah sebagai
berikut: ‟Ain dilukis persis seperti cara yang
diterapkan untuk ‟ain Tsuluts. Mim ditulis hanya dengan
pena untuk huruf pokok itu saja, namun harus diperhatikan terutama
dalam memiringkan pena. Permulaan huruf ditulis dengan hanya sepertiga lebar
pena tersebut. Selanjutnya pena kembali menapak penuh dalam menggoreskan ujung
huruf.
Khat Naskhi dianggap script
yang tertinggi untuk hampir semua umat Islam dan Arab di seluruh dunia. Khat
Naskhi biasanya ditulis dengan batang horizontal pendek dengan kedalaman
vertikal hampir sama di atas dan dibawah garis medial. Khat jenis ini
merupakan khat khat yang sangat elastic karena bentuk
kelenturan yang sangat stabil karena tulisan Naskhi ini merupakan suatu
jeni cursif, yakni tulisan bergerak berputar (rounded) mirip
busur atau berbentu setengah lingkaran yang sifatnya mudah untuk dibaca.
Ibnu Muqlah merumuskan empat
ketentuan tentang tata cara dan tata letak yang sempurna pada tulisan khat
Naskhi berikut ini:
1.Tarsi>f
ترصيف (jarak huruf rapat dan teratur),
2.
Ta’li>f تأليف (susunan huruf terpisah dan bersambung dalam
bentuk serasi),
3.Tasti>r تسطير (keselarasan dan kesempurnaan
hubungan satu kata dengan lainnya dalam sau garis lurus),
4.Tansi>l تنصيل (melukis keindahan dalam setiap
sapuan garis pada setiap hurufnya).
Peranan Khat Naskhi dalam tulisan al-Qur’an
menjadikan jenis khat ini terus berkembang dan bahkan terus di perhalus
dengan menggunakan kaidah yang lebih baik lagi sebagai tulisan dan hiasan dalam menghasilkan
Mushaf al-Qur’an. Selain itu juga menjadi isyarat keindahan tulisan dalam
berbagai mushaf terutama Mushaf Uthmani. Khat Naskhi ini juga telah
mengungkap ketelitian bidang seni khat dengan pembahasan dan
penggunaannya yang sangat mendalam. Selain itu, khat ini telah dijadikan
sebagai gambaran artistik yang direalisasikan melalui sentuhan tangan-tangan
kreatif kaligrafer maupun seniman terhadap berbagai bahan dan medium.
Karakter dari khat Naskhi adalah
lengkungan-lengkungan hurufnya mirif busur atau berbentuk setengah lingkaran,
seperti huruf nun, wawu, ra’ dan za’, sebagian huruf-hurufnya diletakkan diatas
garis semi, seperti huruf alif, dal, ba’, kaf dan fa dan sebagian lainnya
menukik melabrak batas-batas garis, huruf ra’ za’, wawu, lam, dan mim, sehingga
terlihat menggantung[13]. Keindahan khat
ini disebabkan karena adanya iringan harakat atau syakal walaupun
pembentukannya sederhana, khat jenis ini merupakan khat yang
sangat elastic karena bentuk kelenturan yang stabil karena tulisan Naskhi
ini merupakan suatu jenis tulisan bentuk curcif.
Dalam
pembelajaran kaligrafi diseluruh dunia, khat Naskhi adalah yang
pertama diajarkan kepada murid. Menguasai khat Naskhi, dijadikan
standar sebelum si murid mempelajari khat lainnya. Khat ini
mencapai puncak kesempurnaannya dan keindahannya pada abad ke-5 Hijriyah di
Turki hingga pernah menggeser kedudukan tulisan kufi pada saat itu. Jenis khat
yang lazim dipakai hampir semua teks arab yang beredar dan banyak dijumpai pada
buku-buku teks tulisan Arabnya menggunakan gaya khat Naskhi. Gaya
tersebut seakan telah ditetapkan menjadi khat standar dalam
pemakaiannya, serta mampu menjadi dasar atau pokok bagi pembentukan jenis kalgrafi
lain. Sebab, gaya atau jenis lain tergolong lebih rumit dalam pembentukan
hurufnya dan aspek keterbacaannya lebih sulit dibandingkan dengan jenis khat
Naskhi.[14]
Dalam
proses pembelajaran khat Naskhi merupakan satu-satunya jenis yang
paling sederhana, mudah dibaca, dan menjadi dasar untuk tulisan Arab. Khat
jenis ini memiliki hubungan dengan bahasa Arab dalam bentuk pembelajaran secara
keseluruhan, khususnya pada kemahiran menulis tingkat dasar. Dalam hal ini
peranan khat Naskhi dalam pembelajaran bahasa arab dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Khat Naskhi membantu proses kegiatan
pembelajaran bahasa Arab, karena dengan menggunakan khat jenis ini dalam
proses pembelajaran dengan kesederhanaan dan kelebihannya maka terciptalah
pembelajaran yang mudah dan terarah antara guru dan siswa denan komunikasi
tulisan yang dapat diterima dengan baik.
2. khat Naskhi membantu keterampilan
menulis (maharatul kitabah) dalam bahasa Arab dasar. Karena keterampilan
menulis huruf-huruf tunggal dalam bahasa Arab dan penyambungannya, baik ketika
diawal, di tengah, maupun ketika di akhir. Artinya kerampilan menulis huruf
hija’ termasuk dalam keterampilan dasar dalam menulis mata pelajaran khat.
Kterampilan menulis dengan jelas dan mudah dibaca sangat membantu keterampilan
menulis bahasa Arab pada tingkat dasar.
3. khat Naskhi membantu keterampilan
membaca (maharatul qiraah) dalam bahasa Arab dasar. Karena keterampilan membaca
tidak mungkin terwujud tanpa dikuasainya keterampilan mengenal huruf. Mengenal
huruf adalah tahap pertama keterampilan membaca dalam bahasa Arab. Dalam
pembelajaran khat yang bertujuan untuk mewujudkan keterampilan menulis
jelas dan mudah sangat membantu pembelajaran bahasa Arab dasar. Jika peserta
didik mampu menulis dengan jelas, mudah dibaca oleh siapa saja, maka artinya ia
sendiripun bisa membacanya.
4. khat Naskhi berperan dalam
pembelajaran mufradat siswa. Karena media kaligrafi dapat dimasukkan atau
dikelompokkan ke dalam kelompok media pandang (visual) yang berupa tulisan dan
gambar, terutama dipakai untuk pembelajaran mufradat (kata-kata baru yang perlu
diketahui).[15]
Naskhi
banya disukai orang, sebab ditulis lebih mudah dengan bentuk geometrikal kursif
yang bergerak memutar dan mudah dibaca tanpa macam-macam struktur yang
kompleks. Rumus-rumus yang digunakan dalam penulisan khat Naskhi
menurut tarikh klasik Islam, sama dengan yang digunakan untuk s}ulus} dengan
standar empat lima titik untuk alif[16]pada awal kemunculannya,
jenis kaligrafi Arab ini disebut “badi”. Kaligrafi Arab Naskhi
ini memiliki karakteristik lembut, dan jelas dibaca. Apalagi bila kemudian
diberi syakal dan titik. Naskhi tidak digunakan dalam bentuk “Tarkib”
, melainkan datar mengikuti garis.
C.
KESIMPULAN
Dari
pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Menurut Didin Sirojuddin A.R., “kata Naskh diambil daripada akar kata Nuskhah
atau Naskah yang berarti naskah karena ia banyak dipakai untuk menyalin
terjemahan naskah-naskah Yunani, Parsi dan lain sebagainya. Khat Naskhi dipakai untuk mushaf al-Qur’an dan menjadi khat
dari teks- teks Arab yang lain, khat ini juga sering disebut dengan khat
jusnalistik (khat Shuhufi). Tulisan khat Naskhi
merupakan tulisan kursif yang pertama kali timbul. oleh Ibnu al-Bawwab dan
pakar lainnya hingga resmi menjadi tulisan al-Qur’an. Hingga saat ini tulisan
al-Qur’an atau Hijaiyah adalah identik dengan gaya Naskhi, rasm Mushaf
Utsmani juga menggunakan Naskhi.
2. Khat
Naskhi dibagi kepada 2 jenis:
1.
Khat
Naskhi qadim atau kuno adalah gaya tulisan yang sampai pada kita dari
zaman Bani Abbas, kemudian diperintah oleh Ibnu Muqlah dengan kodifikasinya,
kemudian diperindah lagi oleh masyarakat Atabek.
2.
Naskhi
s}uhuf}i atau jurnalistik merupakan gaya yang terus berkembang bentuk huruf-hurufnya.
Dinamakan s}uhuf}i karena penyebarannya yang luas dilapangan jurnalistik.
3.
Ibnu Muqlah merumuskan empat ketentuan tentang tata cara dan tata letak yang
sempurna pada tulisan khat Naskhi berikut ini:
1.Tarsi>f
ترصيف (jarak huruf rapat dan teratur),
2.
Ta’li>f تأليف (susunan huruf terpisah dan bersambung dalam
bentuk serasi),
3. Tasti>r تسطير (keselarasan dan kesempurnaan hubungan satu kata
dengan lainnya dalam sau garis lurus),
4. Tansi>l تنصيل (melukis keindahan dalam setiap sapuan garis pada
setiap hurufnya).
DAFTAR
PUSTAKA
Harun, Makmur Haji. "Eksistensi
Seni Kaligrafi Islam dalam Dakwah: Tantangan, Peluang dan Harapan."
(2015).
Huda, Nurul. "Implementasi Jenis
Khat Naskhi dalam Pembelajaran Bahasa Arab." al Mahāra: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab 3.2
(2017): 287-312.
Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID AL-IMLA
WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN
Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Itsnaini, Ana Shoimah. Peran
Pembelajaran Kaligrafi Dalam Melestarikan Seni Budaya Islam (Studi Kasus di MA
YP KH Syamsuddin Durisawo Nologaten Ponorogo). Diss. IAIN Ponorogo, 2019.
MAKMUR, DR, and SEJARAH DAN TAMADUN
ISLAM. "MANIFESTASI KHAT NASKHI SEBAGAI TULISAN ASAS AL-QUR’AN: Kajian
Terhadap Jenis Khat Naskhi sebagai Tulisan Asas dalam al-Qur’an Mushaf
Uthmani."
Maryono, Maryono. "NILAI–NILAI
PENDIDIKAN DALAM SENI KALIGRAFI KARYA SYAIFUL ADNAN." Wahana Islamika:
Jurnal Studi Keislaman 4.1 (2018): 1-24..
Mawardi, M. Penerjemahan Komunikatif
BukuAsrȃr Al-Rasm Fî Khat
Al-Naskhi Karya Mohamed Amzil. BS thesis. Fakultas Adab & Humaniora, 2018
Pujiati, Pujiati. "Kaligrafi Arab
Digital Ayat Al-qur'an Di Dunia Maya." MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
40.1 (2016).
Suaibi, Mahbub. Pembelajaran Kaligrafi
pada Santri Pon-Pes. Al-Falah Lemahabang Kabupaten Luwu Utara. Diss.
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2017.
Usman, Usman. Korelasi penguasaan
kaligrafi (khat arab) dengan keterampilan menulis bahasa arab siswa kelas VII
MTs Darul Muhajirin Putra Praya Lombok Tengah Tahun Pelajaran 2016/2017. Diss.
Universitas Islam Negeri Mataram, 2017.
Wijaya, Seno. KEMAMPUAN SANTRI DALAM
MENULIS KHAT NASKHI PADA PELAJARAN KALIGRAFI DI MADRASAH TSANAWIYAH PONDOK
PESANTREN DAR EL HIKMAH PEKANBARU. Diss. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif
Kasim Riau, 2010.
[1]
Maryono, Nilai-nilai Pendidikan Dalam Seni Kaligrafi Karya Syaiful Adnan,
Jurnal Studi Keislaman Vol. 4, No. 1 April 2018, hal. 1-2.
[2]
Harun Makmur and Yusof Abdullah, ‘Manifestasi Khat Naskhi Sebagai Tulisan
Asas Al-Quran: Kajian Terhadap Jenis Khat Naskhi Sebagai Tulisan Asas Al- Quran
Mushaf Uthmani’, January, 2011
<https://www.researchgate.net/publication/282913527%0AMANIFESTASI>.
[3]Pujiati
Kaligrafi Arab Digital ayat al-Qur’an di Dunia Maya Jurnal Miqot Vol. No. 1 Januari-Junia 2016,
hal. 221-222
[4]
Makmur Haji Harun, ‘EKSISTENSI SENI KALIGRAFI ISLAM DALAM DAKWAH :
Tantangan , Peluang Dan Harapan.’, October, 2015, 0–18
<https://doi.org/10.13140/RG.2.1.2949.8320>.
[5] Ibnu Rawandhy N Hula, Qawaid Al-Imla
’ Wa Al-Khat 1, 2015.
[6]
Nurul Huda, ‘Implementasi Jenis Khat Naskhi Dalam Pembelajaran Bahasa
Arab’, Al Mahāra: Jurnal Pendidikan
Bahasa Arab, 3.2 (2017), 291–316
<https://doi.org/10.14421/almahara.2017.032-06>.h.289
[7]
Makmur and Abdullah.h.6
[8]
Usman, ‘Korelasi Penguasaan Kaligrafi (Khat Arab) Dengan Kterampilan
Menulis Bahasa Arab Siswa Kelas VII MTs Darul Muhajirin Putra Praya Lombok
Tengah Tahun Pelajaran 2016-2017’, Вестник
Росздравнадзора, 2017.h.19
[9]
Hula.h.212
[10]
Huda.h.13
[11]
D A R El and others, ‘Kemampuan Santri Dalam Menulis Khat Naskhi Pada
Pelajaran Kaligrafi Di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Dar El Hikmah
Pekanbaru’, 2010.h.8.
[12]
M Mawardi, ‘Penerjemahan Komunikatif Buku Asrar Al-Rasm Fi Khat Al-Naskhi
Karya Mohamed Amzil’, Skripsi, 2012,
1–154.h.28
[13]
Ana Shoimah Itsnaini, ‘Peran Pembelajaran Kaligrafi Dalam Melestarikan
Seni Budaya Islam’, Journal of Chemical
Information and Modeling, 53.9 (2013), 1689–99 <https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004>.h.42.
[14]Nurul
Huda, Implementasi Jenis Khat Nashi Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, t.h.h.212
[15]Nurul
Huda, Implementasi Jenis Khat Nashi Dalam Pembelajaran Bahasa Arab, UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta.h.310
[16]
Suaibi Mahbub, ‘Pembelajaran Kaligrafi Pada Santri Pon-Pes. Al-Falah
Lemahabang Kabupaten Luwu Utara’, 2017.h.20.
Komentar
Posting Komentar